Riset Kita, Harapan Mereka

Tersentuh petang ini ketika membaca judul “Your Research, Their Hope“. Ini lah yang sering kali menggelitik pikiran tentang aspek aksiologi dari sebuah riset dalam bidang keilmuan tertentu (bagaimana nilai kemanfaatan dari sebuah ilmu itu diterapkan di alam nyata). Jika dalam artikel tersebut setingnya adalah ilmu kedokteran dengan pasiennya, maka jelas sekali kedudukan siapa yang layak untuk berharap itu. Mereka utamanya adalah para penderita, pasien2 itu, baru kemudian keluarga pasien, pihak tertentu, atau ilmu pengetahuan itu sendiri. Dan hubungannya, bisa jadi langsung, artinya mereka akan menjadi subjek riset di mana hasilnya pun akan bermanfaat bagi tahapan kecil dari penyembuhan penyakit mereka misalnya. Atau terlepas sebagai subjek saat riset, tetapi paling tidak harapannya adalah apa yang dihasilkan oleh seorang/sekelompok peneliti melalui risetnya bisa bermanfaat baik langsung maupun tidak langsung bagi kesembuhan mereka.

Ini juga sebenarnya sangat relevan dalam keilmuan perencanaan kota/wilayah atau pun arsitektur, di mana bisa digolongkan sebagai “applied science”. Artinya, apa yang diangkat sebagai permasalahan riset sebenarnya muncul dari kehidupan yang nyata di masyarakat. Meskipun aplikasinya akan mempunyai variasi periode waktu yang beragam, sesuai dengan kedekatannya pada masalah yang diangkat, tetapi secara langsung sebenarnya akan bisa langsung dimanfaatkan. Apalagi jika riset itu memang sangat khusus, menukik pada permasalahan yang “akut” atau mendesak untuk segera diselesaikan. Dalam bidang ini, kaum marjinal mungkin bisa jadi subyek riset yang relevan atau sebanding dengan “pasien” yang memang mengidap penyakit yang perlu segera mendapatkan penanganan.

Hubungan yang terjadi antara riset dengan persoalan marjinalitas (ambil contoh masalah kekumuhan, masalah kepadatan yang berlebihan, masalah keterpencilan, masalah kekerasan, dan lainnya dalam konteks perencanaan kota/wilayah atau arsitektur), ini sebenarnya sudah sangat banyak. Meskipun demikian, penyelesaian marjinalitas itu kerap kali tidak didasarkan pada prosedur riset yang berkualitas (baik substansi maupun metodologi), bahkan sering sebagai kegiatan formalitas (oleh instansi yang bertanggung jawab) atau spontanitas (oleh pihak yang juga secara spontan bereaksi terhadap sebuah momentum tertentu). Sebaliknya, banyak riset yang mengangkat permasalahan marjinalitas dengan prosesur baku, tetapi tidak pernah sampai atau pun dimanfaatkan secara serius pada permasalahan ini. Di sini lah sebenarnya, harapan subyek marjinalitas pada riset2 yang dilakukan oleh pihak2 terkait itu bagai menggantang asap. Berefek minimalis.

Idealnya, riset yang telah dilakukan dengan benar dan menghasilkan hasil2 yang baik itu bisa berefek luar biasa pada permasalahan (kasus marjinalitas) tadi. Dalam hal ini, institusi pendidikan yang berpegang pada “tri-dharma” tentunya mempunyai kesempatan yang lebih luas dan kontekstual untuk mengaplikasikannya. Sayangnya, sistem dan mekanisme yang ada memang masih sangat menyulitkan bagi civitas akademika untuk berbuat banyak. Mestinya, dengan kondisi yang ada seperti saat ini, riset di perguruan tinggi harus “beyond the publication” atau bahkan “skip publication to jump into reality” :). Dengan begitu, publikasi itu malah mestinya didorong bagi publikasi2 yang terkait dengan aplikasi keilmuan, semacam laporan atau reportase saja. Dan kesempatan itu datang saat ini ketika salah satu bank nasional berencana melakukan CSR dengan jalan merehabilitasi beberapa rumah/kawasan yang mempunyai tingkat marjinalitas tinggi tadi. Semoga ajakan mereka pada institusi perguruan tinggi ini bisa dilakukan melalui model kegiatan “riset” yang dapat dipertanggungjawabkan dan benar2 bisa memenuhi harapan mereka.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Wang Shu dan Keteladanan Lokal

Pagi ini, setelah Shubuh, saya agak bingung membaca linimasa di beberapa penyedia tautan arsitektur yang menyoroti penghargaan Pritzker jatuh pada arsitek China, Wang Shu. Dikemukakan, Wang Shu menjadi “trending topic” di jagad arsitektur. Langsung saja, saya menemukan informasi ini dari sumber aslinya, di Pritzker Architecture Prize dan beberapa sumber lainnya. Tidak lama kemudian, saya pribadi senang ketika membaca filosofi desain pada situs Amateur Architecture Studio (AAS, skup pekerjaannya di bidang arsitektur dan disain kota, berlokasi di Hangshou, timur laut Kota Shanghai), di mana Wang Shu dan istrinya yang juga arsitek, Lu Wenyu berkiprah. Kutipan seluruhnya laman dari AAS tersebut seperti di bawah ini.

“I design a house instead of a building. The house is the amateur architecture approach to the infinitely spontaneous order. Built spontaneously, illegally and temporarily, amateur architecture is equal to professional architecture. But amateur architecture is just not significant. One problem of professional architecture is, that it thinks too much of a building. A house, which is close to our simple and trivial life, is more fundamental than architecture. Before becoming an architect, I was only a literati. Architecture is part time work to me. For one place, humanity is more important than architecture while simple handicraft is more important than technology. The attitude of amateur architecture, – though first of all being an attitude towards a critical experimental building process -, can have more entire and fundamental meaning than professional architecture. For me, any building activity without comprehensive thoughtfulness will be insignificant”.

Dari sini jelas di mana posisi Wang Shu. Ia adalah seorang yang respek terhadap nilai-nilai keseharian, nilai humanisme, nilai amatir, yang biasanya muncul (dari makna “rumah”, bukan sekedar performa bangunan). Ia menggarisbawahi bahwa nilai dan sikap di balik sebuah karya lebih penting dari pada sekedar wajah/ujud “bangunan” yang muncul kemudian. Tampak dari apa yang diungkapkan, ia adalah seorang “low profile”, meski beberapa tahun terakhir ia menjadi langganan tetap sebagai pengajar tamu di beberapa sekolah arsitektur di Amerika. Ia juga amat detil dalam memperlakukan lingkungan dan lokalitas nilai sekitar melalui karya2 representatifnya: Library of Wenzheng College, Vertical Courtyard Apartments, Xiangshan Campus, China Academy of Art, Ceramic House, Ningbo History Museum, Five Scattered Houses, Ningbo Tengtou Pavilion (Shanghai Expo 2010).

Di luar tendensi atau kecurigaan bahwa juri Pritzker kali ini tidak secara komprehensif melihat apa yang seharusnya dinilai pada level “Nobel ala Arsitektur” ini, beberapa pelajaran bisa dimaknai. Pertama, tampaknya juri (dan saya termasuk yang menyetujui, mengingat kaliber juri yang ada seperti Peter Palumbo, Juhani Pallasma, Zaha Hadid, Glenn Murcutt, dll.) telah mengirimkan sinyal bahwa orang-orang yang konsisten terhadap nilai universal maupun lokal seperti Wang yang “berjuang” di tengah perubahan tampilan negaranya, patut mendapatkan tempat terhormat. Ini juga membuktikan bahwa nasihat untuk “Belajar sampai ke China”, tampaknya sudah tidak bisa ditunda lagi. Bahkan, untuk bidang arsitektur dan urbanisme pun, dunia harus memalingkan wajahnya ke negara ini.

Pelajaran kedua, dilihat dari komentar para juri bahwa urbanisasi yang sangat luar biasa di Cina saat ini tidak harus diselesaikan dengan melulu modernisasi. Urbanisasi yang sukses adalah yang mampu selaras dengan budaya dan nilai lokal. Peluang Cina untuk merespon perubahan besar2an melalui perencanaan dan disain tampaknya perlu mendapatkan perhatian khusus, karena fenomena yang terjadi pun memerlukan nilai harmoni yang unik yang mampu ditransformasikan. Arsitektur karya Wang Shu telah sedikit banyak memberi harapan atau peluang untuk menyelaraskan ini. Pak Palumbo sebagai ketua dewan juri mengatakannya seperti ini, “The question of the proper relation of present to past is particularly timely, for the recent process of urbanization in China invites debate as to whether architecture should be anchored in tradition or should look only toward the future. As with any great architecture, Wang Shu´s work is able to transcend that debate, producing an architecture that is timeless, deeply rooted in its context and yet universal”.

Pelajaran ketiga, Wang dan istrinya dalam Amateur Architecture Studio (AAS) baru memulai berkiprah sejak akhir 90an. Meski demikian, dengan filosofi disain yang hebat dan mampu mentransformasikannya melalui karya2 yang konsisten pada 10 tahunan terakhir, respek pun akan datang dengan sendirinya. Pelajaran lainnya, latar belakang pendidikan, dari mana ia memperoleh ilmu terkait, bukan jadi soal. Dari mana pun itu, bila memang mampu menunjukkan kompetensi luar biasa yang diinginkan, terutama melalui sensitifitas terhadap beberapa permasalahan dan jawaban terkait nilai lokal, hasilnya tinggal menunggu waktu. Wang Shu adalah produk lokal Cina di mana kolega2 seangkatannya yang kini tengah mengubah wajah kota2 di China kebanyakan jebolan pendidikan barat. Benar apa yang dikatakan Wang Shu saat merespon penghargaan ini, bahwa kuncinya adalah kerja keras (hard work) dan ketekunan (persistence).

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

“Mentor”, dari pada “Adviser”

Akhir bulan lalu, muncul beberapa ide bagaimana penguatan peran dan fungsi dosen pembimbing akademik. Wacana ini dipicu oleh meninggalnya seorang mahasiswa di kamar kost-nya. Bisa jadi meninggal itu adalah sebuah ketentuan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tidak bisa ditolak barang sedikit pun. Namun, jika dihubungkan dengan konteks yang ada (meninggal saat menjadi mahasiswa), rasanya perlu juga mengobservasi latar belakang kejadian, misalnya. Dari titik ini, seorang dosen pembimbing akademik -paling tidak- dirasa mempunyai peran yang sangat penting. Minimal, ia bisa menjadi orang yang bisa ditanyai oleh pihak institusinya, karena pengetahuannya terhadap anak didik yang dibimbingnya. Dari sini, diskusi berkembang menjadi agak fokus pada “hubungan dosen dan mahasiswa”. Dan, dari sini pula muncul aturan yang disepakati bersama untuk mengintensifkan pertemuan dosen pembimbing akademik dan mahasiswa (terjadual 4 kali dalam 1 semester).

Di luar itu, dan agak kebetulan juga dalam waktu yang berurutan, Science Career, menyoroti persoalan “mentoring“. Secara pribadi, saya bahagia membacanya. Tampak jelas pula apa perbedaan “mentor” dan “adviser” itu (keduanya berarti penasihat, meskipun dalam bahasa aslinya akan tampak jelas perbedaan nuansanya). Jika diresapi, maka peran “mentor” akan lebih berat dan cenderung lebih cair atau informal, dari pada “adviser” yang terkesan sangat formal dan seolah-olah ada batas-batas yang secara kaku harus dijaga. “Adviser” ini menurut tulisan ini, biasanya akan lebih mengarahkan tanpa peduli apa yang menjadi hasrat, kebutuhan, & kondisi khusus lain yg tengah dihadapi orang yang tengah dibimbingnya. Sebaliknya, “mentor” akan mengizinkan dan mendorong orang yang dimentori utk memilih apa yg diingini, dengan memandunya melalui banyak pertimbangan-pertimbangan yang relevan (dari banyak aspek lain) yang ia ketahui atau ia mempunyai pengalaman terkait. Dari bacaan itu pula, disebutkan bahwa “sdviser” akan lebih mirip seorang sutradara, sementara “mentor” akan lebih menyerupai pelatih yang harus meramu banyak strategi untuk keberhasilan orang yang diasuhnya.

Berperan menjadi “mentor” ini, jika dilihat, memang akan sangat tergantung dari budaya maupun sifat individu. Sebuah institusi pendidikan yang hanya menjalankan perannya sebagai “mesin produksi” akan banyak menerapkan konsep “adviser” ini. Yang penting dalam benak institusi atau pun para “adviser” pengikutnya adalah mencetak anak didik sebagai produk yang sesuai dengan tuntutan kompetensinya. Suasana yang tercipta pun kaku, formal, tanpa banyak basa-basi seperti lazimnya harmonisasi hubungan kemanusiaan. Lain dengan institusi yang memang menyadari bahwa tanggung jawabnya bukan hanya “memproduksi” lulusan, tapi juga “mendidik” lulusan dalam arti luas (istilah yang menarik di sini adalah menyulap “pet” menjadi “peer”). Konsekuensinya, bisa jadi akan tercipta sebuah hubungan simbiosis mutualis yang tidak akan berhenti pada tahap “pembimbing” dan “anak didik”, tetapi juga setelahnya. Pertanyaannya, mungkinkah institusi2 pendidikan yang kuat hubungannya dengan alumninya itu memang telah menerapkan pembimbingan ala “mentor” ini? Bukan sekedar jumlah lulusannya yang secara kuantitatif sangat banyak dan sudah merasuk ke sendi2 kehidupan, sehingga membuat seolah-olah  harmonis hubungannya?

Ideal rasanya, jika mampu menerapkan cara kerja “mentor” ini sebagai salah satu tahap dalam karir akademik. Seperti disebut dalam “Pet to Peer” tersebut, riset menyebutkan bahwa tahap yang paling baik dalam karir akademik seseorang yakni ketika ia pertama kali mengawalinya dengan magang, kemudian menjadi kolega, yang ketiga meningkat perannya sebagai mentor, dan yang terakhir adalah sebagai sponsor. Dan rasanya, pengalaman melihat langsung jenjang ini sangat jelas telah menjadi budaya di beberapa perguruan tinggi di luar. Mereka memperlakukan anak didiknya secara “fair” dan “fluid”, dari saat magang misalnya, sampai pada saat ia telah menjadi alumni atau setara kedudukannya sebagai kolega. Dari sini pula, tak mengherankan budaya akademik, riset misalnya, tanpa harus dipaksa pun, sudah akan terjadi dengan sendirinya. Sebuah pelajaran sistem dan cara “mentoring” yang harus banyak diterapkan di lingkungan sekitar kita saat ini. Apalagi, sebenarnya sistem “mentor” ini telah pula dijabarkan secara aplikatif oleh Ki Hadjar Dewantara melalui “tri patrap loka”nya. Seorang “mentor” mestinya bisa menjadi contoh di depan, dan selalu cair motivasi di tengah2 anak didiknya, serta tetap selalu memberi dukungan/petunjuk saat di belakang.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Melawan Budaya Malas Menulis

Sah saja ketika suatu saat seseorang dihinggapi rasa malas untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya disukainya. Dengan begitu, bisa jadi ia benar-benar terpengaruh untuk berjarak dengan hal tersebut. Mungkin bukan karena motivasi yang hilang dari orang itu, tetapi waktu yang memang selalu kurang. Dan ini lebih bisa dimaklumi, karena siapa tahu ada prioritas tugas atau pekerjaan lain yang harus diutamakan. Tugas lain mungkin saja lebih memerlukan perhatian, pikiran, atau adaptasi, sehingga pekerjaan yang disukainya itu terpaksa ditinggalkan. Satu, dua, tiga bulan terkadang ia masih sering mendambakan mampu melakukan semuanya bersama-sama atau berupaya sedikit meluangkan waktu pada hal yang disukainya itu. Dan ketika pada kenyataannya ia tidak mampu mengatasinya, maka yang terjadi sering kali ia harus kesulitan untuk memulainya lagi. Dan ini terjadi pada laman ini. Sejak Mei 2011 tidak pernah diisi lagi, tentu bukan seperti pengandaian di atas tadi. Sebenarnya di buku catatan kecil, sering kali tergores beberapa topik yang terasa menarik, yang mungkin bisa ditindaklanjuti, tapi “momentum” telah meninggalkannya.

Dengan demikian, secara sengaja catatan yang sebenarnya ditulis pada bulan Februari 2012 atau 9 bulan kemudian ini dimasukkan ke bulan Juni 2011. Bukan apa-apa, karena topik-topik lain yang judulnya sudah ada itu diharapkan bisa dimasukkan lagi ke bulan-bulan yang kosong selanjutnya. Dan sesuai tekadnya, meskipun sekali tapi diharapkan bisa rata ada tulisan tiap bulan. Memang harus bekerja keras dan perlu semangat berlipat untuk melakukannya. Toh, laman ini bukan semacam buku harian, tetapi tempat untuk menuliskan beberapa catatan atau topik yang terkait dengan pekerjaan, riset, atau fenomena-fenomena lain yang dirasakan. Dan juga, sebenarnya ada media lain (micro blogging) yang fleksibel tapi cukup terbatas (media dengan maksimal tulis 140 karakter), yang selama ini juga bisa mengakomodasi beberapa buah pikir, sehingga arsipnya bisa sebagai pengingat beberapa hal yang perlu dijabarkan lebih lengkap lagi. Ini juga bisa jadi pembelaan diri, bahwa keinginan menuangkan beberapa topik yang berkelebatan dalam tulisan itu sedikit banyak bisa atau sudah tersalurkan :).

Yang paling sering menarik untuk diamati dan ditulis sebenarnya menyangkut masalah-masalah cara hidup komunitas/masyarakat dan interaksinya dengan kota sehari-hari (everyday urbanism). Beberapa arsip itu antara lain cukup menarik untuk diuraikan lagi, sehingga aspek keseharian itu bisa jadi data yang sangat variatif dan tajam. Beberapa misalnya: Make brand, make trend, make sense |Actions of newspaper sellers, beggars, buskers, street vendors, garbage scavengers in a mid morning streets in the city | Greedy, nimby, profit taking in public spaces | Many policies can only offer gimmicks instead of taking on the real problems | Aggressive and violent behavior, judgement by community | Lazy attitude, dislike to hasten, never on time, unprepared atmosphere | dan lainnya. Atau juga fenomena kota saat liburan, seperti: Holiday period, consumption amenities, city crowdedness | Five lesson learned findings from holiday urbanism: bumper to bumper traffic, crowdedness, garbage, commercialism, and violence. Benefits? Bagaimana pun, media tulis yang terbatas tersebut bisa tetap bermanfaat untuk menampung beberapa ide yang tersebar. Paling tidak pula, arsip2 kecil itu bisa sebagai pemercik motivasi awal memulai bisa konsisten menulis lagi.

Budaya menulis (writing culture) yang lebih mudah untuk ditindaklanjuti dengan budaya baca, bagaimana pun memang perlu usaha untuk mengembangkannya. Masyarakat kita, secara antropologis seperti banyak disitir, lebih banyak menelurkan budaya bertutur dibanding budaya tulis ini. Tak mengherankan, bila sering kali klaim kesejarahan atas suatu peristiwa dirasa belum mempunyai bukti cukup atau otentik dari “tulisan”, misalnya. Ini lah yang semestinya perlu diupayakan pada generasi saat ini. Kemajuan teknologi untuk berekspresi mestinya bisa dimanfaatkan secara optimal untuk hal ini. Rasanya pula, kemudahan-kemudahan itu sudah menunjukkan hasilnya bila dibanding ketika masih kecil dulu, bahkan sepuluh tahun lalu. Ini pula sebenarnya juga menjadi bagian dari dedikasi dan cita-cita masa depan, makin produktif dalam menulis.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

Formula 1 & Even Tengah Kota

Tontonan malam tadi, Seri ke-6 Grand Prix F1 Tahun 2011, mengingatkan kejadian 3 bulan lalu ketika mengunjungi Monaco. Saat itu, bersama dua kolega UGM yang tengah posdok di Polito (Politecnico di Torino) memanfaatkan hari libur untuk mengunjungi salah satu “micro-state” (negara dengan luasan kecil atau penduduk yang juga sedikit) ini, mampir dari mengunjungi Kota San Remo, kota kecil di barat Italia yang secara tahunan menyelenggarakan festival musik. Perjalanan ke Monaco sendiri bisa ditempuh dalam waktu 3 jam dari Turin. Sebuah perjalanan darat yang umum, dalam hitungan jam, antara kota2 beda negara di Eropa. Sesampai di sana, tujuan utamanya adalah membuktikan lokasi Sirkuit Monte Carlo yang tiap tahunnya jadi ajang balap kendaraan Formula-1. Tanpa persiapan data yang jelas, kami bertiga masih berasumsi bahwa di tengah kota Monaco ada sirkuit khusus yang biasa dipakai balapan F-1 itu.

Ternyata berbeda dengan banyangan semula, sirkuit Monte Carlo ternyata memang benar2 bagian dari kota atau negara Monaco itu sendiri. Ia bukan berupa sirkuit khusus yang dibangun untuk balapan ini. Tetapi menggunakan jalan-jalan di pusat kota. Pantas lah beberapa orang yang ditanya pun (sama2 pendatang) tidak paham atas hal ini. Ada seorang kolega wisatawan yang berpapasan di dekat lokasi Istana Monaco menjelaskan bahwa Sirkuit Monte Carlo itu adalah sirkuit yang ada di bawah sana. Sekitar akhir bulan Mei, selama seminggu sebelumnya, penyelenggara akan mulai menyulap bagian pusat kota itu menjadi sebuah fasilitas balapan kelas satu. Ini sebenarnya juga terjadi di Valencia Street Circuit di Valencia, Spanyol dan Marina Bay Circuit di Singapura. Dari beberapa list yang ada, tampaknya Monaco, Valencia, dan Singapura lah yang benar2 memanfaatkan lajur jalan tengah kotanya. Sementara Albert Park di Australia ada di kawasan khusus, sementara di Yas Marina, Abu Dhabi, meskipun tergolong road circuit tapi juga hanya bisa diakses terbatas sehari-harinya.

Gambaran kelayakan sebuah kota memanfaatkan ruangnya untuk even2 khusus ini menghidupkan kembali konsep atau ide bagaimana sebuah kota bisa berperan sebagai area multi fungsi berskala besar. Untuk kasus balapan F-1 ini saja, ruang kota yang terpakai sangat lah luas, panjang treknya bervariasi dari 3-6 km. Banyak aspek massal, baik manajemen maupun teknis di lapangan yang harus diperhitungkan memang, tetapi tampak ganjarannya adalah keuntungan bagi pemasukan kota yang begitu besar pula. Misalnya saja, Singapura sendiri menyelenggarakan perhelatan ini di malam hari, sehingga bisa dihitung bagaimana mereka harus mempersiapkan pencahayaan khusus di trek yang akan dilalui mobil2 jet itu. Tapi bisa dibayangkan pula, berapa wisatawan yang akan datang hanya untuk menyaksikan balapan atau sekedar meramaikan ajang balapan yang hanya ditempuh tak lebih dari 3 jam ini, baik saat babak kualifikasi sampai balapan intinya. Bahkan, mungkin saja seremoninya sudah dimulai satu tahun sebelumnya. “Sport tourism” memang menjadi even yang menggoda di samping “cultural tourism” yang memang sudah biasa di tengah kota.

“Menjual kota” (place selling?) dengan cara2 seperti ini, dengan penyelenggaraan even rutin atau insidental, telah banyak ditulis oleh banyak artikel dan buku. Intinya, even2 ini dipandang cukup signifikan dalam mendongkrak (boosting) perekomonian kota, terutama melalui kedatangan turis, tinggalan fasilitas2 yang bisa dialihfungsikan, atau angka panjangnya bisa sebagai alasan pembangunan infrastruktur. Tentu saja, kehati-hatian dalam memilih strategi pengembangannya maupun skema pembiayaan projek2 terkaitnya juga banyak diwanti-wanti. Hinch dan Higham (2004) menggarisbawahi perlunya kehati-hatian lain lagi dalam mengemas even ini, baik dari aspek orisinalitas (keotentikan) maupun dari aspek komodifikasi (bentuk transformasi dari hubungan yang pertamanya terbebas dari hal2 yang bersifat komersial menjadi hubungan yang bersifat komersial). Apa pun itu, tampaknya menarik juga untuk meriset ide ini, terutama mungkin bisa dikaitkan dengan semangat merevitalisasi pusat kota dengan even2 khusus ini. Voila, there is it!

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , | Leave a comment

Pertama & Kunci: Kontak Profesor

Tanggal 17 Mei kemarin, bertepatan dengan Hari Libur Nasional Waisak, di UGM diselenggarakan Pameran Pendidikan Jepang. Beberapa alumni Jepang (menurut catatan ada hampir 200 alumni yang bertebaran di 18 Fakultas di UGM sebagai dosen atau peneliti) dilibatkan dalam pelaksanaan di lapangan, sebagai “volunteer” saudara tua :-D. Ada 13 universitas yang tergabung dalam program MEXT (Kemendiknas-nya Jepang), yakni Global 30. Program ini utamanya untuk menggenjot promosi pendidikan Jepang di ranah internasional (baik “in-coming” yang tampaknya lebih ditekankan melalui program ini maupun “out-coming”). Ke 13 universitas itu, 6 universitas imperial Jepang (Tokyo, Kyoto, Tohoku, Osaka, Nagoya, Kyushu, minus Hokkaido yang katanya gagal dalam seleksi proposal) dan 7 universitas swasta, semacam Keio, Sophia, Waseda, Meiji (terletak di Tokyo), Doshisha, Ritsumeikan (terletak di Kyoto), ditambah Tsukuba University. Kalo kita mengenal Ivy League di Amerika yang berisi universitas2 ternama, sebagian anggota Global30 ini pun adalah universitas2 ternama pula di Jepang. The Big-Six Universities di Tokyo saja (Tokyo, Hosei, Rikkyo, Meiji, Waseda, dan Keio) yang terkenal tradisi keilmuan maupun kesejarahannya, 4 universitas anggota di antaranya masuk sebagai peserta.

Pada pameran di UGM lalu, selain 13 universitas yang memang sudah masuk dan tertera di website Global30, ada tambahan beberapa peserta, seperti: Chiba, Toyohashi, dan Shizuoka). Banyak dari peserta pameran yang terbagi dalam stan2 universitas mengatakan bahwa pengunjung pameran di Jogja ini lebih banyak dari pada penyelenggaraan di Jakarta dan di Bandung sebelumnya. Dari mayoritas pengunjung itu memang mahasiswa S1 yang tengah kuliah masih mendominasi, disusul siswa2 SMA maupun lulusan S1 yang baru saja lulus atau menunggu mendapatkan pekerjaaan (membayangkan anak2 di rumah 8-10 tahun lagi juga mengalami hal serupa :-)). Rasa ingin tahu tentang pendidikan Jepang memang begitu tinggi, terutama terkait dengan semakin mewabahnya pengaruh budaya2 Jepang yang semakin mengglobal. Promosi Selasa lalu itu juga tampak bahwa komitmen mereka untuk meneruskan program2 yang telah dijalankan (Global30 dirilis pada tahun 2009), tidak terpengaruh dengan kondisi buruk yang tengah mereka alami di luar negeri. Universitas2 itu malah, membawa misi untuk semakin meyakinkan bahwa Jepang tetap mampu bangkit dan optimis menatap masa depan mereka, khususnya dalam membangun masa depan mereka melalui pendidikan tinggi.

Sekitar seribu lima ratus lebih peserta pameran yang pada umumnya didominasi oleh mahasiswa atau siswa yang tengah belajar di Yogyakarta ini mulai jam 10 pagi, sampai jam 6 sore hilir mudik mengeksplorasi keingintahuan mereka atas pendidikan tinggi yang ditawarkan. Ada dua pertanyaan yang cukup mendominasi saat itu. Pertama, mereka akan beranya apakah universitas yang bersangkutan membuka program studi yang sesuai dengan minat belajar mereka. Dan yang kedua, dan tampak lebih dominan sebenarnya, adalah pertanyaan mengenai beasiswa yang disediakan. Kita tahu bahwa pemerintah Jepang, melalui beragam skema beasiswa pemerintah (MEXT, JASSO, JICA dll.) adalah sumber paling terbuka bagi kita yang ingin belajar ke sana. Kuota ini memang lebih diprioritaskan disalurkan melalui kedutaan2 besar Jepang di luar negeri melalui skema G to G (hubungan antar negara). Kedua adalah tentunya dari pihak sponsor swasta, seperti Mitsui, Panasonic, Hitachi, dsb. yang mempunyai tradisi panjang dalam menyokong keberadaan mahasiswa asing di Jepang. Meskipun demikian, biasanya beasiswa swasta lebih terbatas, baik dalam tawaran bidang maupun sekolah yang bisa dituju. Meskipun demikian, ada jalan lain dengan tetap menggunakan beasiswa dari Pemerintah Jepang yang diserahkan kepada tiap universitas sebagai dana pengembangan misalnya. Di sini mungkin lebih dikenal dengan skema U to U, artinya universitas di Jepang (dan unit2 yang ada di bawahnya, termasuk professor atau laboratorum2) yang mempunyai wewenang mengelola sumber dana itu lah yangyang akan banyak berperan dalam proses rekruitmen maupun seleksi calon mahasiswanya.

Paradigma beasiswa Pemerintah jepang telah berubah, dengan lebih memberi kebebasan para fresh graduate yang bertalenta untuk langsung ikut berkompetisi. Ini lain dengan G to G yang mungkin 10 tahun lalu masih mensyaratkan pelamar harus punya hubungan sebagai pegawai di lembaga (pemerintah) tertentu, baik kependidikan maupun non-kependidikan (seperti lembaga2 riset nasional). Dengan perubahan paradigma pengelolaan beasiswa dari pemerintah Jepang ini, yang saat ini juga mungkin lebih besar mengarah pada pengelolaan U to U, atau memberi wewenang lebih bagi universitas dalam menentukan sedari awal siapa yang akan mereka beri, maka memahami bidang studi maupun universitas2 ini menjadi lebih signifikan. Dan ini yang juga menjadi satu permasalahan terbesar dari para pengunjung pameran pendidikan itu. Sebagian besar dari mereka, terutama yang akan melanjutkan pendidikan pasca sarjananya (S2 atau S3), masih mengira bahwa pendidikan Jepang masih bersifat jeneralis. Artinya dengan menghubungi prodi saja cukup menjamin mereka bisa masuk. Tentu saja tidak!

Salah satu kunci pendidikan tinggi Jepang adalah otoritas professor dalam pengembangan keilmuan termasuk rekruitmen siapa yang bisa dan layak untuk dilibatkan (baik mahasiswa Jepang sendiri maupun mahasiswa asing). Dengan sistem ini, maka mau tidak mau kontak dengan profesor yangs esuai dengan bidang yang ingin kita geluti atau dalami menjadi sebuah keharusan dan jalan awal. Dalam proses G to G pun sebenarnya kontak dengan profesor, atau bahkan dengan mengantongi LoA (Letter of Acceptance) atau LoR (Letter of Recommendation) menjadi pembukaan jalan yang sangat menentukan. Bisa dikatakan bahwa dengan mengantongi LoA atau LoR melalui proses korespondensi yang intensif dan mungkin perlu waktu (untuk meyakinkan) yang panjang itu, kita sudah 50% berjalan. Sisanya, adalah proses seleksi dokumen itu sendiri. Dengan proses komunikasi ini pula banyak dari kita bisa memperoleh info bahkan keberuntungan tentang beasiswa yang dikelola oleh universitas (baik dari pemerintah, projek khusus, atau projek linkage dengan swasta) yang bisa dimanfaatkan.

Jadi, di pameran itu, saya pribadi sering menyarankan agar para peminat itu menyebar komunikasi dengan banyak profesor atau lab yang kita tertarik untuk mendalami ilmunya. Lima atau lebih email komunikasi bisa saja disebar, berisi perkenalan, motivasi, sekaligus apa yang sudah kita capai misalnya. Jangan lupa cantumkan dokumen2 pendukungnya. Dan ini yang saya pribadi mengalaminya, mendapatkan LoA dari 3 universitas di Jepang, Todai, Kyodai, dan Tohokudai. Tinggal pilih yang dirasa mantap dengan berbagai pertimbangan, dan komunikasikan baik2 ketika kita tidak menindaklanutinya untuk yang lain dengan alasan yang bijak. Saat itu saya lebih memilih Tohoku Univ. karena sudah banyak Bapak/Ibu yang sekolah di Kyodai (Kyoto Univ), sementara juga tidak di Todai (Tokyo Univ.) karena lebih pada pertimbangan keberlanjutan kehidupan selama menimba ilmu :-). Dan sebenarnya lebih termakan pada berita Asiaweeks yang pada tahun 1999 menempatkan Tohokudai sebagai universitas peringkat pertama di Asia Pasifik :-p. Oke, jadi mulai sekarang, eksplorasilah labo2 yang kita tertariki, hubungi para profesornya, dan telateni proses komunikasinya. Dan tampaknya tidak hanya di Jepang, di belahan dunia lain pun metode ini adalah pintu masuk penting dari sebuah proses sebuah sistem pendidikan yang khas (tak terkecuali di Indonesia :-)).

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Normalitas Hipo, Iso, Hiper Realitas

Diskusi pada mata kuliah Arsitektur dan Urbanisme Rabu minggu lalu cukup menantang, khususnya karena definisi yang diangkat sebagai tugas mahasiswa belum begitu familier di antara peserta mata kuliah. Ya, dengan metode tiap minggu berganti masalah, terutama masalah2 kotemporer arsitektur maupun urbanitas itu sendiri, sebenarnya mahasiswa sudah mulai bisa menduga tentang “aras” atau cakupan kutub yang ada dalam kajian ini yang begitu luas (2 dimensi) atau bahkan berat (3 dimensi). Dengan demikian pada akhir mata kuliah, mahasiswa diharapkan bisa dengan mudah mengungkap apa yang memang terjadi atau ada di dalamnya, terutama terkait dengan topik yang mereka terima. Tiap minggu topiknya berubah, dan pada Rabu minggu lalu mengetengahkan “Hypo, Iso, Hyper-Reality”, selain ada juga “Disaster Urbanism: Resilience x Vulnerability”. Dua topik ini adalah dua di antara banyak topik yang disediakan bagi para mahasiswa untuk membahasnya, mulai dari yang sangat rapi-teoretis sampai yang abstrak-empiris, seperti S, M, L, XL-nya Koolhas dan OMAnya.

Khusus untuk HIH-R (Hipo, Iso, Hiper-Realitas), tampak sekali bahwa cakupan pembahasannya sangat fundamental, terutama untuk mengungkap definisi operasional yang seharusnya sama-sama disepakati (meskipun interpretasi terhadap kenyataan itu sangat subyektif untuk tiap orang). Memang tidak mudah mengingat semua ini sangat terkait dengan ilmu semiotika, yang juga cukup sulit, sekaligus multi dimensi. Tanda dan simbol ini memang ilmu yang kompleks dan sulit. Meskipun seakan-akan, semiotika ini bisa dibicarakan dari mana pun, tetapi ada sebuah tautan yang harus disepakati bersama. Bisa dari teks, atau sesuatu yang maujud (berujud) dan mudah dilacak, sesuatu yang maujud dan sulit dilacak seperti proses komunikasi sampai pada sistem budaya yang kompleks, atau bahkan sesuatu yang nirwujud di mana seseorang harus memecahkannya dengan teknik atau metode tertentu, seperti kode atau pesan-pesan visual lainnya. Ini lah mengapa, dalam bidang arsitektur atau pun urban, sangat jarang dijumpai mahasiswa yang mau secara intensif mendalaminya.

Jika kita membaca tulisan2 Prof. Umberto Eco (lebih intens ketika melihat poster dan bukunya di Turin tahun lalu), salah satu wakil tokoh filsuf sekaligus ilmuwan hyperrealist kelahiran Piedmonte, propinsi di mana Turin berada, memang membuat dahi berkernyit, menduga makna sekaligus sejauh mana cerita yang dibawakan itu saling terkait. Meskipun begitu, sebenarnya Pak Eco menuliskannya dengan gaya yang tidak teramat serius (karenanya masuk kategori novel misalnya), sering kali untuk membaca bukunya pun kita tidak sanggup, dan baru benar-benar paham ketika itu diangkat ke layar lebar. Atau pula, sesuai banyak saran, membaca karya seseorang bisa jadi harus mampu membaca orang tersebut secara menyeluruh. Dengan teks dan konteks yang saling terkait komplek dalam rentang yang panjang, sering kali orang dihadapkan pada fantasi, ilusi di luar realitas yang seharusnya dihadapi sehari-hari. Di sini pula lah, misalnya jika Eco mengangkat setting kota atau wilayah abad pertengahan, itu lah yang kemudian ingin ia sebarkan kepada para pembacanya.

Kembali mendiskusikan HIH-Realitas dalam arsitektur maupun urbanitas, tentunya bisa mengambil setting “membaca” ini, yakni dengan menyelam (atau sekedar membayangkan masuk) dalam “ruang baca” tersebut. Bila hipo digolongkan dalam kondisi yang di bawah realitas, iso adalah kondisi yang sama dari realitas, dan hiper adalah kondisi yang melebihi realitas, maka kita pun bisa merasakannya dalam ujud-ujud fisik di sekitar kita. Manusia yang tertekan di dalam “ruang baca”, bisa jadi masuk ke golongan yang mengalami hipo-realita atau realitas yang terbatas. Dalam konteks kota, bisa jadi ini adalah ujud dari manusia2 kota yang terbatas dalam menggapai realitas keseharian kota itu sendiri. Sementara itu manusia2 yang tampak terbebaskan dalam sebuah ruang kota, di mana ruang2nya membawa mereka pada sebuah fantasi2 yang jauh tercerabut dari realitas kesehariannya, bisa jadi mereka adalah representasi dari para hiper-realis perkotaan. Meski keduanya berada dalam ruang yang berbeda, di kutub tertekan dan kutub terbebaskan, tetapi esensi dari keberadaan mereka sebenarnya sama-sama semu. Ini lah ujud sekaligus ruang dari bagaimana “para-miskin” perkotaan dan “para-kaya” perkotaan itu sebenarnya masuk dalam sebuah golongan vice-versa kehidupan normal kota. Sebuah kehidupan yang normal dan sah ketika dunia juga semakin mengutub seperti saat ini.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Kota Ideal Versi Wayang?

Gara-gara ikut meramaikan tugas anak untuk memilih tokoh wayang sekaligus rencana membingkainya, maka jadi ingat beberapa cerita wayang. Kali ini tidak hanya pada tokoh atau jalur ceritanya, tapi lebih spesifik pada deskripsi di awal2 cerita wayang itu sendiri, khususnya janturan. “Janturan” atau deskripsi dalang berupa prosa pada awal pertunjukan wayang yang sangat spesifik, detil, untuk menggambarkan latar belakang tempat di mana cerita itu berawal. Dan rata-rata, semua tempat digambarkan ideal, meskipun itu dipimpin raksasa sekalipun (khususnya pada cerita2 derivasi atau carangan). Saat kelas 2 SMP pun, guru bahasa daerah yakni Almarhum Pak Gino juga mengharuskan semua murid di kelas untuk menghafalkannya. Saat itu, karena kesukaan mendengarkan wayang di radio, tugas itu dengan lancar dihafal, sekaligus gaya ala dalangnya.

Catatan “janturan” ini ada di internet, tapi beberapa tidak lengkap. Di sini adalah hasil kompilasi dari beberapa sumber di internet: “Anenggih negari ing pundi ingkang kaeka adi dasa-purwa.Eka sawiji adi linuwih, dasa sapuluh purwa wiwitan. Nadyan kathah negari ingkang kasongan ing akasa,sinangga pratiwi, kederan samodra, kathah praja maha prajaingkang samya anggana raras, nanging mboten kados ing nagaripunika (nama negara). Mila kinarya bebukaning carita awit ngupadosna negari satus datan antuk satunggal, sewu datan jangkep sadasa. Dasar negara panjang-punjung-pasir-wukir loh jinawi gemah ripah oh jinawi, ayem tentrem, karta tuwin raharja. Panjang dawa pocapane, punjung luhur kawibawane, pasir samodra wukir gunung. Dene negari ngungkuraken pagunungan, ngeringaken pasabinan, nengenaken benawi, ngayunaken bandaran agung. Loh tuwuh kang sarwa tinandur, jinawi liri sugih talaga narmada, gemah kang alaku dagang rinten dalu salur datan ana apedote labet tan ana sangsayaning marga. Ripah janma kang sami gegriya salebeting praja, jejel riyel adu cukit tepung tumaritis wit saking raharjaning negari. Karta kawula ing padusunan ayem tentrem manahe, mungkul pangolahing tetanen, ingon-ingon rajakaya pitik iwen, rahina aglar ing pangonan, sore bali mring kandhang dhewe-dhewe, datan wonten kang cewet awit kalis ing durjana juti. Raharja tebih ing parangmuka nirmala nirbaya. Para punggawa negari samya kontap kautamane, sekti sudibya wicaksana lepas sawliring kawruh, putus tulus mring pangrehing praja. Tansah amardi mulyaning negari tuwin harjaning kawula”.

Dari “janturan” atau deskripsi awal di atas, kira-kira memang negara atau kota itu sangat ideal bagi hidup. Di sini definisi kota atau negara masih sengaja dicampur, karena mungkin saja negara model pewayangan masih terbatas pada kota (yang terdiri dari praja atau kota wilayah inti kota dan padusunan atau pedesaaan). Zaman kecil dulu, rasanya membayangkan wilayah-wilayah yang sedemikian itu akan mudah, tidak terlalu berlebihan atau bahkan jauh dari utopia. Tapi untuk dibayangkan pada saat ini, rasanya semakin musykil ya? Apa karena masa kecil, memungkinkan sesorang untuk membayangkan dengan lebih bebas, termasuk rasa optimisnya yang juga masih sangat besar. Tapi untuk saat ini, rasa-rasanya uraian itu sungguh sulit untuk direalisasi. Jangan-jangan, ini juga terkait dengan kondisi seseorang, di mana banyak belajar, semakin membuat lebih rasional dan hati-hati. Ah, rasanya tidak juga. Yang jelas, uraian itu juga memberi tolok ukur yang komplit pada tiap frase kata yang dikemukakan.

Jika ditilik lebih detil, maka dari deskripsi “janturan” di atas, memang kota atau negara yang ideal itu juga sedikit. Dari sekian banyak wilayah, yang akan masuk kategori ini memang sangat sedikit, digambarkan dalam jumlah seribu mungkin tidak lebih dari 10. Secara kuantitatif, bisa dikatakan kota ideal tidak akan lebih dari 1% :-). Dan keidealan ini mencakup semua jenjang atau aspek kehidupan, dari fisik, sosial, sampai ekonomi. Berarti konsep keberlanjutan itu juga telah lama dikenal dalam pewayangan (lestari). Wilayah kota itu sangat spesial, berada di tengah-tengah wilayah, antara pegunungan dan laut, dan masih mengkonservasi wilayah2 hijau untuk pertanian. Masyarakatnya juga hidup di tengah kota dengan cukup padat, dan mempunyai ikatan sosial yang sangat baik (saling berhubungankah kepadatan dan ikatan sosial ini? :-)). Para pedagang dari luar juga menaruh minat untuk berinvestasi atau membuka usaha di dalam kota. Ini tentunya berhubungan dengan rasa aman, layanan, maupun kebijakan yang mendukung. Nah, untuk ke sana, kapasitas aparat pemerintahan tampaknya juga menjadi kuci kesuksesan dalam menjalankan roda kota atau negara.

Tentunya, interpretasi bebas di atas itu masih perlu dikonfirmasi kepada pihak yang lebih paham dan menguasai masalah pewayangan. Tampaknya menarik juga untuk sekedar mengobservasi bagaimana terminologi kota ideal dalam pewayangan kepada ahlinya, misalnya para dalang, atau kalau perlu beberapa studi dari India tentang ini. Beberapa naskah pedalangan, juga bisa menjadi sumber eksplorasi data untuk mengungkap isi yang tersurat dari tiap deskripsi wilayah negara atau kota yang ada. Lebih jauh, bagaimana struktur ruang kotanya, misalnya. Sering kita mendengar bahwa lokasi “jejer” yang biasanya ada di dalam keraton atau istana, biasanya langsung berhubungan dengan ruang publik semacam alun-alun. Ini sering kita temukan juga di kraton-kraton di Nusantara. Di sana, sesuai konteks ceritanya, tempat prajurit sudah tinggal menunggu perintah perang (kontek peperangan); tempat rakyat menunggu kabar berita atau mengadakan upacara-upacara (kontek masa damai); atau misalnya tempat para ksatria adu jotos (kontek sayembara atau diserang oleh pihak lawan). Konsep kemultifungsian ruang terbuka jelas sangat terlihat di sini. Bagaimana dengan ruang-ruang lainnya? Mari kita dengarkan pagelaran wayang yang masih rutin di beberapa radio lokal atau kita kaji bersama-sama melalui riset kecil-kecilan :-D.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Agropolitan, Juga Perlu Detil

Dalam waktu kurang dari 4 hari, tampaknya secara tidak sengaja harus bersentuhan dengan satu topik yang cukup “menggoda”, agropolitan. Pertama, hari Jumat minggu lalu ketika harus mempresentasikan proposal KKN untuk rekan2 mahasiswa di hadapan reviewer LPPM tentang rencana inisiasi konsep agropolitan di Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten Magelang. Memang judulnya menjadi “kawasan pertanian terpadu”, tetapi sebenarnya beresensi pada bagaimana kelayakan atau bahkan usulan menjadikan lokasi tersebut sebagai bagian dari agropolitan yang sudah ada sebelumnya (di Wilayah Kopeng). Yang kedua, hari ini, kuliah tamu Dr. Jamhari (Kajur Sosek Pertanian Faperta UGM) juga melabeli kuliahnya dengan agropolitan sebagai strategi penyeimbang pembangunan desa-kota. Sebuah usulan konsep pengembangan wilayah yang berbasis pada pertanian. Di samping itu, minggu lalu ada pula mahasiswa yang memasukkan draft untuk mengevaluasi minapolitan, sebuah agropolitan berbasis perikanan darat.

Oke, hampir semua sepakat bahwa desa perlu didudukkan kembali sebagai wilayah yang perlu diperkuat untuk menyeimbangkan pertumbuhan yang selama ini identik dengan wilayah perkotaan. Jika melihat apa yang dituliskan di buku-buku, atau yang sering dikutip adalah bahan paparan dari PU tentang konsep agropolitan ini, maka kita hanya diperlihatkan sebuah “janji” berbentuk diagram yang secara konsepsual mampu diaplikasikan. Bahwasannya desa pusat pertumbuhan (DPP) punya kaitan erat untuk dihubungkan ke dalam sebuah sub sistem yang lebih besar sebelum nantinya masuk ke pasar global yang lebih luas. Selebihnya tidak ada termasuk seperti apa masterplan fisik/spasial dari konsep ini (yang tidak skematik tapi realistik berdasar kondisi wilayah yang di-agropolitan-kan). Jadi, pada kenyataannya, sangat lah sulit melihat praktik yang benar2 bisa dilihat secara lebih kongkrit sebagai sebuah hasil olahan lingkungan binaan. Artinya intervensi rencana detil sangat jarang dijumpai, padahal tindak lanjut konsep agropolitan ini juga mestinya sampai pada detil bagaimana seharusnya kawasan yang ada itu dikembangkan/direncanakan. Karena jika tidak, meskipun dalam skala yang tidak sama dengan di kota misalnya, efek “trickle down” sebagai sebuah wilayah yang benar2 mengkota akan menjadi kenyataan.

Beruntunglah Pak Duany dan Bu Plater-Zyberk (2009) telah mencontohkan secara kongkrit bagaimana seharusnya wilayah perdesaan itu harus didetilkan dalam sebuah konsep “Agricultural Urbanism”. Tentu saja, transek wilayah menjadi sesuatu yang diandalkan untuk dapat mengurai, dan selanjutnya secara detil “bercerita” bagaimana seharusnya fisik maupun ruang kawasan itu terujud. Memang keduanya mengusung tema yang sama, membangun kota berbasis pada pertanian. Bedanya, konsep agropolitan di Indonesia dibiarkan berkembang begitu saja, tanpa ada detil rencana yang representatif mampu menggambarkan bagaimana pola yang diinginkan pada saat “optimum usage”-nya misalnya. Sebaliknya, Duany-Plater-Zyberk, seperti biasanya secara detil berusaha mengasimilasi aspek dasar (pertanian) ini dalam tiap jenjang yang berbeda secara lebih detil. Penyelesaian ini juga lebih mendetilkan akan proposisinya Friedmann dan Douglas (1975) tentang “urbanism” yang dimaksud melalui konsep agropolitan ini. Hasilnya adalah (mungkin) skala kegiatan/ruang dan gaya hidup yang berbeda pada tiap bagian tadi. Mestinya masterplan agropolitan juga menghasilkan tingkat kedetilan yang sama seperti yang disampaikan mereka.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Pentingnya “Temporary City”

Bencana tampaknya kian akrab di dalam kehidupan kita. Seiring dengan itu, dalam proses penanganan pasca bencana, orang juga mulai mengenal “temporary shelter” atau hunian sementara, setelah sebelumnya orang mengenal tempat2 evakuasi atau “hinanjou” dalam Bahasa Jepang. “Temporary shelter” atau disingkat “T-Shelter” yang berarti hunian sementara memang telah menjadi strategi sementara yang jitu bagi tempat2 yang mengalami bencana alam. Di sini para kurban atau pengungsi sebelum menempati tempat permanen, mereka dipindahkan dari pusat-pusat evakuasi ke tempat sementara ini. Tujuannya, selain “trauma healing” misalnya, mereka juga bisa lebih bebas dan mampu mempersiapkan diri lebih baik sebelum kembali atau membangun di tempat permanennya. Di Indonesia sendiri, penanganan bencana akhir2 ini, dari Gempa Aceh, Gempa Jogja, sampai Erupsi Merapi telah memperkenalkan “T-Shelter” sebagai strategi di masa transisi yang baik bagi para pengungsi, sebelum masuk pada tahap rekonstruksi atau rehabilitasi yang lebih panjang.

Meskipun begitu, konsep “temporary” untuk kasus seperti bencana gempa bumi dan tsunami, disusul krisis nuklir di Jepang saat ini, perlu diperluas. Dari yang tadinya shelter, house, mungkin istilahnya perlu diperluas menjadi kota, bahkan wilayah. “Temporary City” begitu. Kota Sendai sendiri sebetulnya telah direncanakakan dalam strategi penanganan bencana di Tokyo sebagai “temporary city” atau “reserve city” bagi Kota Tokyo, apabila di Tokyo mendapatkan ancaman gempa yang besar seperti yang mereka alami pada tahun 1923 (Kantou Daijishin). Artinya beberapa kegiatan pemerintahan atau ekonomi yang tadinya dipusatkan di Tokyo, bisa dipindah sementara di Kota Sendai, apabila Tokyo mengalami hambatan. Dan tampaknya sesuai dengan perkembangan terakhir, terutama kekhawatiran warga di seputaran Kanto terhadap meningkatnya radiasi nuklir akibat kebocoran Reaktor Nuklir di Fukushima Daiichi, konsep “temporary city” ini menjadi lebih relevan. Kota2 di selatan Kanto, seperti Nagoya, Osaka dan sekitarnya menjadi kota sementara yang menjadi sasaran eksodus warga Kanto ini. Kota2 lain di luar negeri, seperti Hongkong, Taiwan, bahkan Bali pun juga menjadi alternatif lain dari mereka. Dalam eksodus yang mereka lakukan ini, orang2 juga berpikir masalah “T-City” di mana mereka bisa menyelamatkan diri dalam sebuah ruang kota di luar kota asalnya.

Bila menilik ihwal perkembangannya, skala yang lebih besar dari “T-Shelter” ini, sebenarnya bisa pula tumbuh dari sekumpulan hunian sementara yang kemudian berkembang tidak hanya sebagai hunian tapi fungsi2 lain dalam kurun waktu tertentu. Aspek kesementaraan ini juga cocok secara definisi, karena material yang digunakan, waktu yang memang terbatas, dan juga faktor penghuni yang mengalami proses sedari awal. Meskipun demikian, “T-City” model lain yakni merencanakan sebuah kota sebagai sebuah kota cadangan (reserve city) bagi penduduk yang datang sementara juga perlu dipikirkan. Hal ini sangat tepat bila dikaitkan dengan konsep ketahanan dari sebuah wilayah dalam mengantisipasi dampak bencana misalnya. Kota yang satu bisa jadi menjadi “T-city” bagi kota lainnya, bersinergi dalam sebuah rencana besar (antisipasi). Tentunya hal ini menyangkut wilayah atau fasilitas apa saja yang harus direncanakan dan didedikasikan untuk upaya-upaya membangun “T-City” ini. Dengan demikian membangun kota berketahanan bencana pun sebenarnya perlu memikirkan hal2 yang eksekusinya bersifat antar-kota, antar-wilayah yang terhubungkan secara baik (well-networked), bukan sebuah rencana yang soliter atau sendiri2. Dan ini tampaknya belum banyak dipikirkan di negara kita.

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , | Leave a comment