Tanggal 17 Mei kemarin, bertepatan dengan Hari Libur Nasional Waisak, di UGM diselenggarakan Pameran Pendidikan Jepang. Beberapa alumni Jepang (menurut catatan ada hampir 200 alumni yang bertebaran di 18 Fakultas di UGM sebagai dosen atau peneliti) dilibatkan dalam pelaksanaan di lapangan, sebagai “volunteer” saudara tua :-D. Ada 13 universitas yang tergabung dalam program MEXT (Kemendiknas-nya Jepang), yakni Global 30. Program ini utamanya untuk menggenjot promosi pendidikan Jepang di ranah internasional (baik “in-coming” yang tampaknya lebih ditekankan melalui program ini maupun “out-coming”). Ke 13 universitas itu, 6 universitas imperial Jepang (Tokyo, Kyoto, Tohoku, Osaka, Nagoya, Kyushu, minus Hokkaido yang katanya gagal dalam seleksi proposal) dan 7 universitas swasta, semacam Keio, Sophia, Waseda, Meiji (terletak di Tokyo), Doshisha, Ritsumeikan (terletak di Kyoto), ditambah Tsukuba University. Kalo kita mengenal Ivy League di Amerika yang berisi universitas2 ternama, sebagian anggota Global30 ini pun adalah universitas2 ternama pula di Jepang. The Big-Six Universities di Tokyo saja (Tokyo, Hosei, Rikkyo, Meiji, Waseda, dan Keio) yang terkenal tradisi keilmuan maupun kesejarahannya, 4 universitas anggota di antaranya masuk sebagai peserta.
Pada pameran di UGM lalu, selain 13 universitas yang memang sudah masuk dan tertera di website Global30, ada tambahan beberapa peserta, seperti: Chiba, Toyohashi, dan Shizuoka). Banyak dari peserta pameran yang terbagi dalam stan2 universitas mengatakan bahwa pengunjung pameran di Jogja ini lebih banyak dari pada penyelenggaraan di Jakarta dan di Bandung sebelumnya. Dari mayoritas pengunjung itu memang mahasiswa S1 yang tengah kuliah masih mendominasi, disusul siswa2 SMA maupun lulusan S1 yang baru saja lulus atau menunggu mendapatkan pekerjaaan (membayangkan anak2 di rumah 8-10 tahun lagi juga mengalami hal serupa :-)). Rasa ingin tahu tentang pendidikan Jepang memang begitu tinggi, terutama terkait dengan semakin mewabahnya pengaruh budaya2 Jepang yang semakin mengglobal. Promosi Selasa lalu itu juga tampak bahwa komitmen mereka untuk meneruskan program2 yang telah dijalankan (Global30 dirilis pada tahun 2009), tidak terpengaruh dengan kondisi buruk yang tengah mereka alami di luar negeri. Universitas2 itu malah, membawa misi untuk semakin meyakinkan bahwa Jepang tetap mampu bangkit dan optimis menatap masa depan mereka, khususnya dalam membangun masa depan mereka melalui pendidikan tinggi.
Sekitar seribu lima ratus lebih peserta pameran yang pada umumnya didominasi oleh mahasiswa atau siswa yang tengah belajar di Yogyakarta ini mulai jam 10 pagi, sampai jam 6 sore hilir mudik mengeksplorasi keingintahuan mereka atas pendidikan tinggi yang ditawarkan. Ada dua pertanyaan yang cukup mendominasi saat itu. Pertama, mereka akan beranya apakah universitas yang bersangkutan membuka program studi yang sesuai dengan minat belajar mereka. Dan yang kedua, dan tampak lebih dominan sebenarnya, adalah pertanyaan mengenai beasiswa yang disediakan. Kita tahu bahwa pemerintah Jepang, melalui beragam skema beasiswa pemerintah (MEXT, JASSO, JICA dll.) adalah sumber paling terbuka bagi kita yang ingin belajar ke sana. Kuota ini memang lebih diprioritaskan disalurkan melalui kedutaan2 besar Jepang di luar negeri melalui skema G to G (hubungan antar negara). Kedua adalah tentunya dari pihak sponsor swasta, seperti Mitsui, Panasonic, Hitachi, dsb. yang mempunyai tradisi panjang dalam menyokong keberadaan mahasiswa asing di Jepang. Meskipun demikian, biasanya beasiswa swasta lebih terbatas, baik dalam tawaran bidang maupun sekolah yang bisa dituju. Meskipun demikian, ada jalan lain dengan tetap menggunakan beasiswa dari Pemerintah Jepang yang diserahkan kepada tiap universitas sebagai dana pengembangan misalnya. Di sini mungkin lebih dikenal dengan skema U to U, artinya universitas di Jepang (dan unit2 yang ada di bawahnya, termasuk professor atau laboratorum2) yang mempunyai wewenang mengelola sumber dana itu lah yangyang akan banyak berperan dalam proses rekruitmen maupun seleksi calon mahasiswanya.
Paradigma beasiswa Pemerintah jepang telah berubah, dengan lebih memberi kebebasan para fresh graduate yang bertalenta untuk langsung ikut berkompetisi. Ini lain dengan G to G yang mungkin 10 tahun lalu masih mensyaratkan pelamar harus punya hubungan sebagai pegawai di lembaga (pemerintah) tertentu, baik kependidikan maupun non-kependidikan (seperti lembaga2 riset nasional). Dengan perubahan paradigma pengelolaan beasiswa dari pemerintah Jepang ini, yang saat ini juga mungkin lebih besar mengarah pada pengelolaan U to U, atau memberi wewenang lebih bagi universitas dalam menentukan sedari awal siapa yang akan mereka beri, maka memahami bidang studi maupun universitas2 ini menjadi lebih signifikan. Dan ini yang juga menjadi satu permasalahan terbesar dari para pengunjung pameran pendidikan itu. Sebagian besar dari mereka, terutama yang akan melanjutkan pendidikan pasca sarjananya (S2 atau S3), masih mengira bahwa pendidikan Jepang masih bersifat jeneralis. Artinya dengan menghubungi prodi saja cukup menjamin mereka bisa masuk. Tentu saja tidak!
Salah satu kunci pendidikan tinggi Jepang adalah otoritas professor dalam pengembangan keilmuan termasuk rekruitmen siapa yang bisa dan layak untuk dilibatkan (baik mahasiswa Jepang sendiri maupun mahasiswa asing). Dengan sistem ini, maka mau tidak mau kontak dengan profesor yangs esuai dengan bidang yang ingin kita geluti atau dalami menjadi sebuah keharusan dan jalan awal. Dalam proses G to G pun sebenarnya kontak dengan profesor, atau bahkan dengan mengantongi LoA (Letter of Acceptance) atau LoR (Letter of Recommendation) menjadi pembukaan jalan yang sangat menentukan. Bisa dikatakan bahwa dengan mengantongi LoA atau LoR melalui proses korespondensi yang intensif dan mungkin perlu waktu (untuk meyakinkan) yang panjang itu, kita sudah 50% berjalan. Sisanya, adalah proses seleksi dokumen itu sendiri. Dengan proses komunikasi ini pula banyak dari kita bisa memperoleh info bahkan keberuntungan tentang beasiswa yang dikelola oleh universitas (baik dari pemerintah, projek khusus, atau projek linkage dengan swasta) yang bisa dimanfaatkan.
Jadi, di pameran itu, saya pribadi sering menyarankan agar para peminat itu menyebar komunikasi dengan banyak profesor atau lab yang kita tertarik untuk mendalami ilmunya. Lima atau lebih email komunikasi bisa saja disebar, berisi perkenalan, motivasi, sekaligus apa yang sudah kita capai misalnya. Jangan lupa cantumkan dokumen2 pendukungnya. Dan ini yang saya pribadi mengalaminya, mendapatkan LoA dari 3 universitas di Jepang, Todai, Kyodai, dan Tohokudai. Tinggal pilih yang dirasa mantap dengan berbagai pertimbangan, dan komunikasikan baik2 ketika kita tidak menindaklanutinya untuk yang lain dengan alasan yang bijak. Saat itu saya lebih memilih Tohoku Univ. karena sudah banyak Bapak/Ibu yang sekolah di Kyodai (Kyoto Univ), sementara juga tidak di Todai (Tokyo Univ.) karena lebih pada pertimbangan keberlanjutan kehidupan selama menimba ilmu :-). Dan sebenarnya lebih termakan pada berita Asiaweeks yang pada tahun 1999 menempatkan Tohokudai sebagai universitas peringkat pertama di Asia Pasifik :-p. Oke, jadi mulai sekarang, eksplorasilah labo2 yang kita tertariki, hubungi para profesornya, dan telateni proses komunikasinya. Dan tampaknya tidak hanya di Jepang, di belahan dunia lain pun metode ini adalah pintu masuk penting dari sebuah proses sebuah sistem pendidikan yang khas (tak terkecuali di Indonesia :-)).